Wednesday, October 24, 2018

Yogyakarta History Facts: part 1

Yogyakarta History Facts. Sejarah kehidupan manusia dimulai dari masa prasejarah. Dari masa ke masa kehidupan manusia mengalami perkembangan, mulai dari pola hidup berpindah-pindah kepada pola hidup menetap, pembentukan komunitas dengan tokoh-tokoh pemimpin, sampai pada tingkat membentuk negara. Dari belum mengenal tulisan sampai kepada menulis naskah dalam berbagai huruf dan bahasa.

Tahap-tahap dalam sejarah kehidupan manusia itu tercermin dari tinggalan-tinggalan arkeologis, baik berupa artefak, ekofak, maupun fitur. Dalam tahap-tahap itu manusia memilih tempat baik sementara maupun menetap untuk melakukan aktivitas-aktivitasnya. Pemilihan lokasi tersebut tidak lepas dari tersedianya sumber daya alam pendukung kehidupan dan wawasan-wawasan praktis serta filosofis.



Yogyakarta sebagai suatu satuan administratif juga mengalami tahap-tahap kehidupan manusia seperti di atas, sebagaimana tercermin dalam beragam tinggalan arkeologis yang ditemukan di berbagai lokasi. Salah satu lokasi tersebut adalah kawasan Kabupaten Gunung Kidul. Di beberapa desa di sepanjang aliran Sungai Oyo ditemukan alat-alat batu paleolitik, yaitu alat yang paling tua dalam tahap kehidupan manusia. Jejak-jejak budaya manusia dari kurun waktu yang tertua, yakni masa prasejarah, di Yogyakarta juga ditemukan di daerah Sanden, Kabupaten Bantul.

Masa berikutnya adalah masa yang biasa disebut masa atau periode Klasik atau Hindu-Buddha, karena dilatarbelakangi oleh agama Hindu-Buddha yang berasal dari India. Dalam periode ini mulai terbentuk pemerintahan berbentuk kerajaan, yang tertua di Indonesia terdapat di Kutai (Kalimantan Timur), dan Tarumanagara (Jawa Barat), yaitu pada abad V M. Dalam perkembangan berikutnya, pusat-pusat kerajaan juga terdapat di pedalaman Jawa Tengah dan DIY sekarang, yaitu di dataran Prambanan dan Kedu.

Berdasarkan Prasasti Sojomerto diketahui bahwa di Jawa pada abad VII M telah berdiri sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang pendiri Dinasti Syailendra yaitu Dapunta Syailendra. Namun belum dapat diketahui secara pasti nama kerajaannya. Berdasarkan berita Cina pada zaman Sung awal (420-470 M) Jawa disebut She-P’o.

Selanjutnya dalam Prasasti Canggal (dekat Muntilan) dari tahun 732 M diketahui di Jawa ada seorang raja bernama Sanjaya. Adapun nama Kerajaan Mataram pertama kali diketahui dari Prasasti Mantyasih 907 M yang juga menyebut Sanjaya sebagai raja pertama yang memerintah.

Dalam prasasti ini juga disebutkan daftar nama raja-raja yang memerintah sesudah Sanjaya, antara lain: Panangkaran, Panunggalan, Warak, Garung, Pikatan, Kayuwangi, Watuhumalang, dan Balitung. Daftar nama raja-raja Mataram tersebut diketahui lebih lengkap lagi dengan ditemukannya Prasasti Wanua Tengah III tahun 908 M. Berdasarkan bacaan serta penafsiran atas beberapa prasasti, diperoleh daftar nama raja-raja Mataram Kuna sebagai berikut.

  1.    Dapunta Syailendra (abad VII)
  2.    Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (717-746 M)
  3.    Sri Maharaja Rakai Panangkaran (746-784M)
  4.    Rakai Panaraban (784-803M)
  5.    Sri Maharaja Rakai Panunggalan ?
  6.    Sri Maharaja Rakai Warak (Dyah Manara) (803-827 M)
  7.    Dyah Gula (827-828 M)
  8.    Sri Maharaja Rakai Garung (828-847 M)
  9.    Sri Maharaja Rakai Pikatan (Dyah Saladu) (847-855 M)
10.    Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (Dyah Lokapala) (855-885 M)
11.    Dyah Tagwas (885 M)
12.    Rakai Panumwangan (Dyah Dewendra) (885-887M)
13.    Rakai Gurunwangi (Dyah Bhadra) (887 M)
14.    Sri Maharaja Rakai Wungkalhumalang/Watuhumalang (894-898M)
15.    Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-909 M)
16.    Sri Maharaja Sri Daksottama Bahubajrapratipaksaksaya (910-913 M)
17.    Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodhong (913-919 M)
18.    Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa (919-925 M)

Berdasarkan prasasti-prasasti tersebut juga diketahui bahwa wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuna kira-kira mencakup kawasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah, dan bahkan mungkin sampai dengan Provinsi Jawa Timur. Lebih jauh berita Cina dari Dinasti T’ang memberi gambaran singkat tentang sistem birokrasi di kerajaan tersebut: terdapat 28 negara bawahan yang merupakan wilayah-¬wilayah ke-rakai-an (watak). Raja sebagai penguasa dibantu oleh 4 menteri utama, yaitu Rakarayan Mahamantri I Hino, Rakarayan Mahamantri I Halu, Rakarayan Mahamantri I Sirikan, dan Rakarayan Mahamantri I Wka. Adapun penguasa-penguasa di wilayah watak yang merupakan raja-raja bawahan adalah para rakai.

Beberapa prasasti dari masa itu juga memberikan gambaran tentang kondisi politik, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Pada saat-saat tertentu kondisi politik cukup stabil, namun pada saat lain terjadi intrik politik. Sudah barang tentu hal semacam itu menyebabkan terjadinya pasang surut kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Dapat diduga bahwa candi-candi yang menjadi bukti kejayaan Kerajaan Mataram Kuno, seperti percandian Lara Jonggrang, hanya dapat dibangun pada saat kondisi politik cukup stabil.

Namun sayang sekali bahwa keraton yang menjadi pusat Kerajaan Mataram Kuna, saat ini belum dapat diketahui secara pasti keberadaannya, mungkin karena pada umumnya keraton terbuat dari bahan yang tidak tahan lama seperti kayu. Di sisi yang lain, tempat-tempat pemujaan (candi) dibuat dari bahan yang lebih tahan lama seperti batu andesit, batu putih, dan bata. Di samping itu, menarik perhatian pula bahwa pusat Kerajaan Mataram Kuna sering berpindah tempat, yang mungkin disesuaikan dengan dinamika kehidupan politik dalam kerajaan. Sampai saat ini dari sumber prasasti diketahui bahwa ibu kota Kerajaan Mataram Kuna pernah berada di Medang ri Poh Pitu, di Medang ri Mamratipura, dan di Medang ri Bhumi Mataram.

Pada abad X M, pusat Kerajaan Mataram Kuna dipindahkan ke tempat lain yang lebih jauh, yaitu ke Jawa Timur. Apa penyebabnya sampai sekarang belum diperoleh jawaban yang memuaskan dan pasti. Dengan perpindahan ini dapat diperkirakan bahwa kehidupan bernegara di wilayah yang kini bernama Yogyakarta menyurut, karena raja adalah ”patron” bagi kehidupan rakyatnya. Namun, ini tidak berarti bahwa kehidupan bermasyarakat juga berhenti.

Rakyat tentu ada yang masih tinggal di situ, mungkin ada pula kaum pendeta yang tetap tinggal untuk “menghidupkan” candi-candi yang ada, dan membimbing kehidupan rohaniah masyarakat. Selama sekitar 5 – 6 abad berikutnya kehidupan politik, budaya, sosial, dan ekonomi berpusat di wilayah Jawa Timur dalam wadah kerajaan-kerajaan Kediri, Singasari, Majapahit, dan lain sebagainya.

Masa masuknya pengaruh Islam di Indonesia, khususnya di Jawa belum dapat diketahui secara pasti. Namun tinggalan arkeologis menunjukkan adanya pengaruh Islam di Jawa pada abad XI M. Tinggalan itu berupa nisan makam Fatimah binti Maimun bin Hibatallah yang berangka tahun 485 H =1082 M. Pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit, eksistensi pengaruh Islam mulai kokoh dengan berdirinya Kerajaan Demak Bintara pada ± 1476 M, dengan raja pertama Raden Patah.

Kerajaan ini diakui sebagai awal bagi munculnya kerajaan-kerajaan Islam pada masa-masa selanjutnya di Jawa. Setelah wafatnya Sultan Trenggana, yaitu raja Demak ketiga, kerajaan dipindahkan oleh menantunya yang bernama Sultan Hadiwijaya ke daerah pedalaman, tepatnya di Pajang. Mulai saat itulah kerajaan yang semula berbasis maritim kemudian menjadi agraris.

Next >> part 2



Sumber :
Buku Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta
Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Artikel Terkait