Friday, October 26, 2018

Yogyakarta History Facts: part 2

Berakhirnya kekuasaan Kerajaan Pajang pada perempat akhir abad XVI M mengantarkan munculnya kakuatan politik baru, yaitu Kerajaan Mataram-Islam dengan pusat pemerintahan di Kotagede yang sekarang termasuk dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kerajaan Mataram-Islam inilah yang menjadi cikal-bakal Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Oleh karena itu, sejarah Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dari sejarah Mataram-Islam.

Penguasa pertama Kerajaan Mataram-Islam adalah Ki Ageng Pemanahan, yang kemudian bergelar Ki Ageng Mataram. Kepemimpinan Ki Ageng Pemanahan tidak berlangsung lama, karena ia meninggal enam tahun kemudian. Sepeninggal Ki Ageng, pimpinan tertinggi di Mataram dipegang oleh Sutawijaya, yang bergelar Ngabehi Loring Pasar. Setelah naik takhta, gelarnya adalah Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama.


Pada waktu itu kharisma pemimpin agama Islam di Jawa (Wali Sanga) masih terasa. Hal ini terbukti dari legenda adanya restu dari Sunan Giri dan Sunan Kalijaga kepada Sutawijaya (Senopati) sebagai pemimpin Mataram yang sah. Di samping itu, beberapa pernikahan Senopati dengan putri dari tokoh-¬tokoh penting masa itu semakin memperkuat kedudukan politisnya. Sebagai contoh adalah pernikahannya dengan Retno Dumilah, putri Panembahan Rangga Madiun sekaligus cucu Sultan Trenggana, juga pernikahannya dengan putri Ki Penjawi dari Pati.

Untuk memperkuat kedudukan Senapati sebagai penguasa Kerajaan Mataram Islam yang baru berdiri, maka selama pemerintahannya ia banyak melakukan berbagai peperangan. Peperangan ini dilakukan terhadap para bupati yang memberontak ataupun tidak mengakui kekuasaannya, di antaranya adalah peperangan melawan Bupati Pati, Madiun, dan Surabaya. Meskipun demikian, Senapati juga memberi perhatian yang cukup besar terhadap pembangunan dan penataan fasilitas pendukung ibu kota Mataram saat itu.

Pembangunan yang pernah dilakukan oleh Senapati sebagaimana disebutkan dalam Babad Tanah Jawi, antara lain berupa pembangunan benteng dari bata, dan pembuatan parit yang lebar mengelilingi kota kerajaan. Senapati juga memberikan perintah untuk membangun sebuah masjid Agung, yang berhasil diselesaikan pada tahun 1589 M. Masjid ini sampai sekarang masih dapat disaksikan, walaupun telah mengalami beberapa perubahan fisik. 

Senapati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama, sebagai pemimpin awal Kerajaan Mataram Islam, telah berusaha memperluas wilayah kekuasaannya ke arah utara dan timur. Namun keberhasilannya menaklukkan wilayah Pati, Surabaya, Jepara, dan Madiun, disertai pula dengan kegagalannya menaklukkan berbagai wilayah di Jawa Timur. Meskipun demikian, pemerintahan Senapati telah mempunyai kerangka dasar yang cukup kuat dan baik. Ia meninggal pada tahun 1601 M dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Agung yang dibuatnya, tepatnya di selatan makam ayahnya. Sebelum meninggal dunia, ia telah mengatur suatu suksesi kepemimpinan di Kerajaan Mataram Islam, agar sepeninggalnya kekuasaan diserahkan kepada Pangeran Jolang.

Pangeran Jolang sebenarnya bukanlah anak lelaki tertua Panembahan Senapati. Seperti diketahui Panembahan Senapati mempunyai dua orang permaisuri, yaitu puteri dari Pati, dan puteri dari Madiun. Pangeran Jolang adalah anak lelaki Panembahan Senapati dari puteri Pati, atau dengan kata lain Pangeran Jolang adalah cucu dari Ki Penjawi. Diduga penobatan Pangeran Jolang didasari oleh ingatan akan jasa-jasa Ki Penjawi, dan demi menjaga hubungan baik dengan keluarga besar di wilayah Pati.


Akan tetapi hal ini mengakibatkan Pangeran Puger yang menjabat Adipati di Demak dan Pangeran Jayaraga yang diangkat sebagai Adipati Panaraga, bersama-sama memberontak terhadap Mataram. Namun, akhirnya kedua adipati tersebut dapat ditundukkan kembali, dan masing-masing diasingkan ke Kudus serta Nusa Kambangan.

Masa pemerintahan Pangeran Jolang hanya berlangsung sekitar 12 tahun. Meskipun demikian, seperti halnya ayahnya, ia juga memberi perhatian yang cukup besar terhadap pembangunan fasilitas kota Kerajaan Mataram-Islam. Pada tahun 1603 M, raja memerintahkan pembangunan Prabayaksa di keraton, dan dua tahun kemudian telah selesai dibangun sebuah pertamanan yang diberi nama Taman Danalaya.

Taman ini terletak di sebelah barat keraton dan dilengkapi dengan suatu segaran (kolam). Adapun pembuatan kompleks pemakaman Kotagede diselesaikan pada tahun 1606 M. Berbagai pembangunan fisik lainnya amat pesat dilakukan, antara lain adanya pembangunan lumbung di Gading, membuat krapyak di Beringan. Di samping itu juga digalakkan usaha pertanian dan perkebunan seperti menanam pohon merica, kemukus, dan kelapa.

Masa pemerintahan Pangeran Jolang berakhir pada tahun 1613 M, yaitu saat ia jatuh sakit di hutan perburuan (krapyak) dan akhirnya meninggal dunia. Pangeran Jolang kemudian dimakamkan di Astana Kapura Kotagede. Karena meninggal pada saat berburu, maka ia dikenal pula dengan sebutan Panembahan Seda Ing Krapyak. Perlu dicatat sebelum masa pemerintahan Pangeran Jolang berakhir, terjadi kontak atau hubungan dengan bangsa Belanda.

Pada pertengahan tahun 1613 M, Raja Mataram mengirim seorang utusan untuk menemui pimpinan VOC Belanda di Banten, yaitu Gubernur Jenderal Pieter Both, untuk menyampaikan keinginannya menjalin hubungan dagang dengan mereka. Utusan tersebut berhasil membawa misinya, sehingga pada tanggal 22 September 1613 kapal Belanda merapat di pelabuhan Jepara (yang saat itu menjadi wilayah Mataram), dan kemudian mereka mendirikan loji di tempat itu.

Penguasa tertinggi Mataram kemudian bergulir dan dipegang oleh putra Panembahan Seda ing Krapyak yaitu R.M. Jatmiko yang dikenal pula dengan nama Pangeran Rangsang. Setelah menjadi raja, ia disebut Sultan Agung Senapati ing Alaga. Kronologi pengangkatan Sultan Agung menjadi Raja Mataram tergolong unik, karena yang mula-mula diangkat sebagai raja adalah adiknya (RM. Martapura). Namun hanya sebentar setelah memegang kekuasaan, R.M. Martapura meletakkan jabatan dan mempersilahkan kakaknya untuk menggantikannya.

Langkah ini dirasa tepat, karena sebagaimana lazimnya suksesi kepemimpinan biasanya dimulai dari yang lebih tua dahulu. Hal ini mempunyai maksud agar pihak yang lebih tua tidak merasa dilangkahi, sehingga tidak menimbulkan perselisihan di kemudian hari. Berbagai contoh sejarah yang berkaitan dengan perselisihan keluarga dalam memegang kekuasaan sering kali terjadi, karena ada ketidakpuasan terhadap pemegang kekuasaan oleh pihak yang lebih tua.

Pada awal masa pemerintahan Sultan Agung banyak terjadi berbagai pertempuran. Pertempuran-pertempuran tersebut bermaksud untuk menaklukkan kembali berbagai wilayah bawahan yang berusaha memberontak. Mereka ini adalah para bupati pemegang kekuasaan di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.

Berbagai pertempuran tersebut mencapai puncaknya pada tahun 1625 M, yaitu dengan pengerahan pasukan untuk mengepung Surabaya. Selain itu juga masih ada pertempuran-pertempuran dalam skala yang lebih kecil, yaitu penaklukan Pati, Giri, serta Blambangan. Setelah selesai menaklukkan wilayah Blambangan, Sultan Agung memerintahkan sebagian penduduknya untuk pindah dan tinggal di Mataram.

Next >> part 3

Sumber :
Buku Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta
Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY

Artikel Terkait