Sunday, October 28, 2018

Yogyakarta History Facts: part 3

Sementara itu, hubungan dagang dengan VOC yang dirintis oleh Panembahan Seda Ing Krapyak, makin meningkat frekuensinya. Bahkan ada beberapa utusan gubernur jenderal yang dikirim ke Mataram, di antaranya Hendrick de Haan, Jan Vos, dan Pieter Franssen. Hubungan yang baik ini mulai memburuk pada tahun 1624 M, karena Sultan Agung mulai melihat adanya ketidakberesan dari pihak Belanda.

Sultan Agung melihat kehadiran Belanda di Batavia adalah sebagai kekuatan politik yang mampu mengancam kekuasaannya. Dengan semakin memburuknya hubungan Mataram dengan Belanda, maka pada tahun 1628 dan 1629 M pasukan Mataram mengepung Batavia. Namun sayang, pasukan Mataram gagal mengalahkan Belanda, karena kurangnya logistik, timbulnya berbagai penyakit, serta penggunaan senjata api oleh tentara Belanda.


Kegagalan penaklukan Batavia oleh Sultan Agung, tampaknya diimbangi dengan usaha legitimasi secara spiritual. Hal dibuktikan dengan pengubahan gelar Susuhunan yang dipakainya sejak tahun 1624 M, maka sejak tahun 1641 M ia bergelar Sultan.

Usaha yang lain adalah melakukan ziarah ke makam Sunan Tembayat di Klaten, Jawa Tengah pada tahun 1633 M sekaligus membangun pintu gerbang kompleks makam. Pintu gerbang tersebut bemama gapura Panemut yang berbentuk candi bentar dan sekarang masih dapat dilihat sebagai pintu gerbang ketiga di kompleks makam tersebut.

Berbagai langkah besar dan fenomenal dilakukan oleh Sultan Agung pada masa pemerintahannya. Langkah-langkah besar yang dilakukan itu merupakan suatu usaha mengadakan penyeimbangan antara tradisi Hindu (yang lebih dulu ada) dengan tradisi Islam.

Tindakan yang paling spektakuler terlihat pada adanya usaha penyusunan dan penggunaan sistem kalender baru. Kalender baru yang disusun merupakan perkawinan antara perhitungan tahun Hijriyah dengan tahun Saka, yang saat itu menunjukkan angka tahun 1555 Saka. Sistem kalender tersebut terbukti dapat diterima oleh masyarakat Jawa, dan masih digunakan sampai sekarang dengan sebutan penanggalan Jawi.

Meskipun pada masa pemerintahan Sultan Agung banyak terjadi peristiwa politik, tetapi dia tidak melupakan berbagai pembangunan fisik baik di lingkungan kota kerajaan maupun di berbagai tempat lain. Di antaranya mulai menyiapkan pembangunan keraton baru di Kerta-Plered, dan pembangunan pemakaman di Girilaya (sekitar 10 km arah selatan Kotagede).

Pembangunan makam tersebut dimulai pada tahun 1629 M dengan dipimpin oleh Panembahan Juminah. Akan tetapi pemakaman tersebut akhirnya tidak digunakan oleh Sultan Agung, karena sudah dipakai untuk memakamkan Panembahan Juminah yang meninggal dalam masa pembangunan itu.

Setelah itu, Sultan Agung membangun pemakaman baru di Bukit Merak. Kegiatan ini dimulai pada ahun 1632 M atau tiga tahun setelah pembangunan makam di Girilaya. Pembangunan makam di Bukit Merak berlangsung selama 13 tahun, dan setelah selesai diberi nama Imagiri. Belum genap setahun setelah pembangunan makam Imagiri selesai, Sultan Agung meninggal di pendapa Keraton, dan dimakamkan di Imagiri. Sebelum jenazahnya dimakamkan, terlebih dahulu dilakukan upacara pentahbisan putra mahkota sebagai pemegang tampuk kekuasaan Mataram-Islam.

Setelah pemerintahan Sultan Agung, maka yang memimpin Mataram adalah Sunan Amangkurat I. Pada masa pemerintahannya, pada tahun 1647 M, pusat pemerintahan dipindah dari Kotagede ke Plered. Berbagai peristiwa berdarah terjadi pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat I, terutama pembunuhan terhadap kerabat dan beberapa tokoh penting yang tidak sepaham dengan kebijakan politik pemerintahannya. Sebagai contoh adalah pembunuhan terhadap Tumenggung Wiraguna dan keluarganya, Pangeran Alit (adik Sunan sendiri), dan para ulama beserta keluarganya. Peristiwa-peristiwa politik yang terjadi, diimbangi dengan berbagai pembangunan fisik pendukung keraton baru.

Pembangunan fisik pendukung keraton sangat menakjubkan dan berlangsung secara spartan. Berbagai bangunan yang dibuat membuat bangsa Belanda yang kagum berkunjung ke Plered. Sumber tertulis menyatakan pembuatan pagar keliling keraton dari bata dan bagian puncaknya berwarna putih atau dari batu padas. Pembuatan pagar keliling ini diselesaikan hanya dalam waktu dua bulan.

Setelah itu (sekitar dua tahun kemudian), didirikan masjid Plered dan setahun kemudian dilakukan perluasan terhadap tempat berburu di sisi timur (Krapyak wetan). Belum puas dengan kondisi keratonnya, Sunan Amangkurat I juga memerintahkan untuk membuat bendungan atau segaran. Di samping itu juga dilakukan pembuatan lokasi pemakaman untuk Ratu Malang di Gunung Kelir pada tahun 1668 M.

Sementara itu, hubungan bilateral dengan sekutu-sekutunya mulai kurang harmonis. Hal ini berkaitan dengan sikap Sunan yang terkesan arogan dan tiran dalam menjalankan roda pemerintahannya. Sikap demikian ini menyebabkan banyak pihak yang berusaha melepaskan diri dari pengaruh kekuasaannya. Sebagai contoh adalah penguasa di Jambi dan Kalimantan. Namun demikian, sikap Sunan tetap tidak berubah, sebab tindakan yang dilakukan banyak didukung oleh orang-orang Belanda melalui VOC. Sikap Sunan terhadap VOC berbeda 180° bila dibanding dengan sikapnya terhadap penguasa pribumi.

Hal ini terbukti dengan adanya perjanjian persahabatan dengan VOC tahun 1646 M, yang antara lain berisi tentang pengakuan Mataram terhadap kedudukan VOC di Batavia. Bahkan VOC setiap tahun mengirim utusan ke Mataram. Sikap ini pada masa berikutnya menjadi bumerang bagi pemerintah Mataram, karena VOC mulai melakukan intervensi terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Mataram.

Berbagai sikap politik yang dilakukan oleh Sunan, menjalin hubungan dengan VOC dan menyingkirkan orang berpengaruh di sekitamya, menimbulkan permusuhan di antara kerabat sendiri. Permusuhan yang paling mencolok berlangsung antara Sunan Amangkurat I dengan Pangeran Adipati Anom, yang mengakibatkan hilangnya simpati rakyat terhadap pemimpinnya. Akibat yang paling parah adalah adanya perlawanan Trunajaya, yang pada akhirnya menghentikan kekuasaan Sunan Amangkurat I di Mataram.

Pada waktu itu, Sunan Amangkurat I meloloskan diri ke Imagiri, kemudian meneruskan perjalanan ke arah barat untuk minta bantuan VOC. Namun, ia meninggal di Wanayasa (wilayah Banyumas Utara sekarang) pada tanggal 10 Juli 1677. Tiga hari kemudian jenazahnya dimakamkan di Tegalwangi. Makam Sunan Amangkurat I ini merupakan satu-satunya makam pemimpin Mataram yang berada jauh dari wilayah kekuasaannya.

Sebelum meninggal dunia, Sunan Amangkurat I masih sempat mengangkat Pangeran Adipati Anom sebagai penggantinya dengan gelar Sunan Amangkurat II, sekaligus mewariskan berbagai tanda kebesaran kerajaan yang sempat dibawa lari. Sementara itu, putra lain dari Sunan Amangkurat I yaitu Pangeran Puger, melarikan diri ke arah Bagelen (Purworejo, Jawa Tengah) dan mengangkat diri menjadi raja dengan gelar Susuhunan Ing Alaga. Setelah Trunajaya mengundurkan diri ke Kediri, maka Pangeran Puger kembali ke Plered dan menduduki istana kerajaan.

Next >> part 4


Sumber :
Buku Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta
Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY

Artikel Terkait