Wednesday, November 28, 2018

Wisata Pasar Kebon Watu Gede Kabupaten Magelang

Wisata Pasar Kebon Watu Gede memang pantas mendapat acungan lima ibu jari alias 5 jempol. Dengan luas lahan lebih kurang 5000 meter persegi, walaupun pasarnya tidak berdiri secara permanen hanya dari bale-bale bambu, tetapi tempatnya sangat bersih dan asri. Karena berada dihalaman atau pekarangan warga setempat yang ditumbuhi papringan atau pepohonan bambu yang sangat rindang dedaunannya. 


Pasar Kebon Watu Gede yang terletak di Dusun Jetak, Desa Sidorejo, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang – Jawa Tengah ini baru berumur 9 bulan sejak pertama kali dibuka dibulan Februari 2018, dan sudah diresmikan  oleh Kepala Dinas Pariwisata Olahraga dan Kepemudaan ( Disparpora ) kabupaten Magelang, Bapak Iwan Sutiarso. Dan uniknya, pasar ini tidak di buka setiap hari. Tetapi hanya dibuka di hari pasaran tertentu, yaitu Minggu Legi dan Minggu Pahing. Dari jam 6 pagi sampai dengan jam 12 siang. 

Walaupun tidak dibuka setiap hari, antusiasme masyarakat sekitar sangat tinggi untuk mendatangi pasar kebon watu gede ini. Pendatang pun bukan hanya dari kota Magelang saja, bahkan pengunjungnya juga ada yang dari luar Jawa Tengah, baik wisatawan lokal seperti Kalimantan, Yogyakarta, Jakarta, Palembang, Surabaya. Dan lebih hebatnya lagi, wisatawan mancanegara dari Jepang, Belanda, Cina, Australia, dan juga Inggris sudah mengunjungi. Keberhasilan promosi lewat lidah di media cetak dan media online seperti akun-akun pribadi di sosial media, membuat pasar tradisional ini semakin terkenal dan menjadi viral.

Padahal, awal sebelum menjadi tempat kunjungan wisata, secara history dulunya dusun ini adalah tempat pengrajin besek dengan unsur backgroundnya dari bambu. Seiring berjalannya waktu, entah kenapa tanpa alasan yang tidak jelas, satu persatu para warga pengrajin besek ini tidak lagi membuat besek, cerita mas Ari seorang pemuda asli dusun Jetak yang juga ikut mencetuskan ide dan membangun Wisata Tradisional Pasar Kebon Watu Gede ini. 

Merasa prihatin dengan kondisi seperti itu, sehingga karang taruna didusunnya ikut memikirkan untuk mencari jalan keluarnya supaya pengrajin besek tidak mati suri dan syukur-syukur bisa ada generasi penerusnya, tambah mas Ari yang juga bergabung sebagai anggota Generasi Pesona Indonesia ( GENPI ) kabupaten Magelang. 

Setelah survey keberbagai tempat wisata di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, akhirnya mas Ari beserta kawan-kawannya menemukan solusi menghidupkan kembali semangat para pengrajin besek didusunnya. Caranya dengan membuat dan juga sekaligus mengelola sebuah tempat wisata dengan konsep back to nature zaman old, yaitu desa wisata dalam bentuk pasar tradisional. 

Musyawarah dengan melibatkan orang-orang yang dituakan dan juga pemilik lahan yang nantinya akan digunakan untuk pasar wisata menghasilkan kesepakatan 100 persen setuju. Tanpa bantuan dana dari pihak-pihak instansi terkait, hanya bermodalkan patungan ( swadaya ) warga setempat serta saling bahu membahu bergotong royong, akhirnya impian mereka mempunyai sebuah Desa Wisata terwujud. 

Setelah beroperasional secara resmi, pengunjung tidak dikenakan retribusi atau tiket masuk alias gratis tis. Dan pihak pengelola pun juga memberikan pelayanan yang sangat baik bagi pengunjungnya dengan menyediakan tempat tunggu pengunjung yang terbuat dari bambu plus gratis minuman mineral didepan gapura yang dijadikan gerbang utama pintu masuk. 

Dari gapura pintu masuk menuju gapura Pasar Kebon Watu Gede, bisa berjalan kaki dengan jaraknya lebih kurang 500 meter. Tetapi bagi yang tidak mau berjalan kaki, pihak pengelola telah menyediakan ojek motor. Tidak free yaa. Harus bayar 2000 rupiah saja kok, murah kan…. Tapi kalau mau sehat jasmani dan rohani, yaa pilih jalan kaki aja. 

Sambutan hamparan padi hijau yang tumbuh disawah di kanan kiri jalan, membuat mata hati ini merasakan ketenangan. Ada saung untuk tempat istirahat bagi yang kelelahan. Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah adanya spot-spot selfie buat visitor yang hobbi bergaya and jeparat-jepret dengan kamera ponselnya.

Setelah berada didalam area  pasar kebon watu gede, jangan lupa mampir dulu ketempat penukaran uang. Maksudnya..? Untuk belanja disini, mata uang rupiah tidak berlaku. Jadi harus ditukarkan dengan mata uang “Benggol” atau koin yang terbuat dari kayu berbentuk persegi panjang. Nilai 1 benggol sama dengan 2000 rupiah. Bagi yang mau menukarkan uang 100 ribu rupiah dengan 50 benggol, dapat gratis 1 tas besek anyaman bambu. Bagaimana..? 

Kalau sudah memiliki koin benggol, tinggal berburu deh makanan dan minuman atau barang-barang kerajinan tangan. Pokoke yang dijual di pasar kebon watu gede serba jadul serba klasik. Semuanya memang benar-benar tradisional. Termasuk penjualnya, mereka mengenakan pakaian tempo doeloe. 

Penyanyi silih berganti menyanyikan lagu berbagai genre dari panggung secara live untuk menemani penikmat jajanan dibawah sepoi-sepoi daun pohon bambu. Kuliner cetil, buntil, nasi belut, nasi enthok, aneka baceman, pecel pincuk, soto grabah, klepon ubi, ronde, kolang kaling, kicak, ketan lopis, ketan srundeng, gendar kinco, sego gudeg komplit, puthu, wedang buah, dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Begitu juga dengan mainan yang dibuat dari kerajinan tangan bambu. And jangan lupa, jika rambut anda sudah gondrong atau sekedar untuk merapihkan, silahkan mampir ke tukang cukur yang sudah tersedia dipasar ini. 

Untuk bapak dan ibu yang membawa anak-anak tidak usah kuatir. Karena pihak pengelola telah menyediakan tempat bermain untuk anak-anak. Seperti ayunan, egrang, jungkat jungkit, dan lain sebagainya. Semua alat permainan terbuat dari bambu. Ditambah lagi ada edukasi seni membatik, dengan suasana belajarnya sengaja dibuat fun. Asyik kan….


Tips :

Ada sedikit saran dari penulis buat yang belum pernah dan mau berkunjung ke Wisata Pasar Kebon Watu Gede. 

1. Datang pada hari Minggu Pahing atau Minggu Legi ( berdasarkan kalender Jawa )
2. Karena belum ada petunjuk jalan ke pasar kebon watu gede, jadi harus banyak bertanya
3. Sudah harus tiba jam 7 atau 8 pagi ( jam 9 sudah padat )
4. Kalau kesiangan, kaga bakalan dapat jajanan tradisional ( kehabisan )
5. Telat sedikit, susah dapat tempat parkir kendaraan 


Salam Wisata Indonesia

Artikel Terkait