Saturday, January 19, 2019

Sendang Kasihan: Kolam Berendam Pengasihan dari tancapan Tongkat Sunan Kalijaga

”Sendang Kasihan” adalah sebuah kolam berendam untuk “Pengasihan” yang berasal dari tancapan “Tongkat” Sunan Kalijaga yang berada di Yogyakarta, tepatnya di wilayah Bantul. Tidak jauh dari pabrik gula Madukismo, lebih kurang 1,5 kilometer kearah barat. 

Karena belum adanya petunjuk ( papan arah ) menuju ke lokasi, yang ingin berkunjung harus banyak tanya - tanya nih. Atau yang lebih mudahnya, patokannya adalah rumah makan Sego Pulen. Disamping kirinya ada akses yang menuju Sendang Kasihan, cuma 500 meter kok dari jalan raya.


Jika sudah sampai dilokasi, tolong diperhatikan peraturan-peraturan dibawah ini :

Sendang Kasihan

Sugeng Rawuh

Perhatian Untuk Pengunjung

                         1.  Berkunjung ke Sendang wajib lapor juru kunci / penjaga sendang 
                         2.  Menjaga kebersihan hati
                         3.  Menjaga perkataan
                         4.  Menjaga perbuatan / perilaku
                         5.  Pelihara tata krama di sendang
                         6.  Tidak bermain - main di sendang
                         7.  Tidak melakukan perusakan
                         8.  Saling menjaga ketertiban
                         9.  Saling menjaga ketenangan dan kenyamanan
                       10.  Jagalah kebersihan dari sampah apapun
                                 ( terutama sampah puntung rokok harap dibuang pada tempat yang sudah disediakan )

Apabila hal diatas tidak diperhatikan dan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan menimpa pengunjung, menjadi tanggung jawab pengunjung. Matur Nuwun. 

SEMOGA APA YANG ANDA IDAM-IDAMKAN SEGERA TERKABUL. AMIN. AMIN. AMIN.

Salam Hormat 

Juru Kunci 

( SAPA SALAH SELEH )         YUDARYANTO

Kalimat - kalimat diatas adalah sebuah tulisan Pengumuman yang tertempel di dinding samping pintu masuk SENDANG KASIHAN. Jadi, sebelum memasuki ke dalam area kolam berendam, pengunjung wajib membaca  dulu tulisan-tulisan tentang etika atau tata kramanya jika sudah berada didalam. 

Sebagai penyambung lidah dari eyang, simbah, dan orang tuanya, Yudaryanto atau biasa disapa mas Yudi bercerita kepada Jogmag, sejarah awal keberadaan Sendang Kasihan yang beralamat di jalan Sendang Kasihan, RT.05 / RW.18, Dusun Kasihan, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Secara garis besarnya, adanya sumber mata air sendang ini adalah sabdanya Raden Mas Sahid nama kecilnya Sunan Kalijaga. Pada saat beliau melakukan “Lelono” ( perjalanan ) mengembara mensyiarkan agama Islam bertemu dengan sosok perempuan tua yang mau mencari air. Sunanpun menanyakan siapa namanya. Wanita tua itu mengaku bernama Mbo Rondo Kasian.

Dengan bertemunya mbo Rondo Kasian yang mau mencari air, akhirnya sunan Kalijaga memunajatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sambil menancapkan tongkatnya ke tanah. Setelah selesai berdoa, begitu tongkatnya dicabut dari tanah, bekas tancapan tongkatnya itu ada sumber mata air. Tetapi dulu masih kecil belum sebesar sekarang ini, tutur mas Yudi. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Mbah Iro Diwiryo ( eyang buyut Yudaryanto ) diperlebar, diperluas dan dibangun sedemikian rupa pada tahun 1923, lanjutnya.  

Dan sejarah juga telah mengungkapkan, kalau kolam ini dulunya telah menjadi tempat persinggahan untuk mandinya Roro Pembayun puteri Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram Islam. 

Kenapa seorang putri raja mau mandi ditempat ini..? Pasti ada sebab musababnya ya..?  tanyaku kepada mas Yudi. 

Betul..! jawab mas Yudi begitu cepat. Dia diam sejenak, lalu melanjutkan kembali ceritanya.

Sebenarnya ini adalah kisah antara cinta dan kehormatan seorang Ki Ageng Mangir dari Desa Mangir yang berselisih paham dengan Raja Mataram I, yaitu Panembahan Senopati. Karena tidak mau tunduk dibawah kerajaan Mataram, akhirnya sang raja mengatur strategi. Yaitu memerintahkan puterinya sendiri, Roro Pembayun untuk memikat KI Ageng Mangir. 

Untuk mengelabui kepala wilayah Desa Mangir itu, paduka raja Mataram menyuruh Roro Pembayun beserta punggawa terkemuka kerajaan harus menyamar sebagai rombongan kesenian. Ki Juru Martani yang bergelar Ki Adipati Mandaraka juga menganjurkan kepada sang puteri untuk singgah dan mandi terlebih dahulu disebuah sendang atau kolam peninggalan Sunan Kalijaga. Tujuannya adalah untuk menguatkan kecantikan dari dalam ( inner beauty ).

Baca juga : Luweng Sampang Goa Pertapaan Sunan Kalijaga

Memiliki niat yang baik dihati, diapun melakukan ritual penyucian diri melalui berendam dan membasuh wajah dengan bersih atas anjuran Patih yang pertama di Kesultanan Mataram saat itu, Ki Adipati Mandaraka, disumber mata air bekas tancapan tongkat Sunan Kalijaga tersebut. Setelah melakukan itu semua, dirinya terlihat lebih muda, cantik dan menarik. 

Singkat cerita, Ki Ageng Mangir yang masih muda, belum menikah, dan terkenal sakti pada zaman itu langsung luluh lantah terpesona, terpikat dan tergila-gila jatuh cinta setelah melihat Roro Pembayun yang memakai nama samaran Waranggana dan menyamar sebagai seorang “Ledek” sedang menari di wilayahnya, Desa Mangir. Akhirnya, Ki Ageng Mangir Wonoboyo IV itu menyatakan niatnya mempersunting Waranggana untuk menjadi istrinya. 

Note : 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti Ledek : penari dan penyanyi kesenian tradisional (keliling); ronggeng keliling. 


Dari Apollo belum sampai ke bulan, hingga mendarat dibulan, sampai milenial di zaman now, Sendang Kasihan masih banyak pengunjungnya. Dari yang tua sampai yang muda, baik yang perorangan maupun secara rombongan, berlomba-lomba mengejar keinginan niatnya dengan berendam ditempat ini. 

Tiap hari yang berkunjung ketempat pemandian ini memang sangat ramai, kecuali musim hujan sepi. Tetapi yang paling ramai adalah dihari pasaran, seperti malam Selasa kliwon, Jum’at kliwon dan Jum’at legi. Kebanyakan dari mereka yang mau berendam, biasanya setelah sholat isya, ada yang tengah malam jam 12. Malah ada juga yang jam 2 dini hari. 

Ada yang minta jodoh, kelanggengan rumah tangga, kewibawaan, kesuksesan pekerjaan, dan lain sebagainya. Semuanya tergantung hajat ( niat ) dihati. Jadi, masalah percaya atau tidak, yakin atau tidak yakin, dikembalikan lagi ke diri pribadi masing-masing bagaimana cara menyikapinya. Wallahu A’lam ( dan Allah Maha Mengetahui ).

Dan informasi tambahan dari kuncennya ( juru kunci ), bahwa mata airnya tidak pernah kering walaupun dimusim kemarau sekalipun. Dan yang menakjubkan adalah kadar pH ( potential Hidrogen ) airnya sangat tinggi, yaitu mencapai angka 8 ( sudah di tes / uji lab oleh salah satu universitas di Yogyakarta ).


Salam Indonesia,

Artikel Terkait