Monday, January 28, 2019

Sendang Ngembel: Telaga Beji Pajangan Bantul Yogyakarta

Sendang Ngembel merupakan salah satu tempat wisata di Bantul yang berupa telaga atau mata air. Uniknya, ditengah telaga ini ada semacam pulau kecil yang luasnya lebih kurang 8 m2 dan ditumbuhi pohon cemara. 

Untuk melepaskan penat dari rutinitas kesibukan diperkotaan, tempat ini memang sangat cocok untuk sejenak rileks. Karena Sendang Beji nama lain dari Sendang Ngembel ini berada ditengah rimbunnya pepohonan dengan suasana yang sangat nyaman sekali. 


Lokasi sendang ini masih di Yogyakarta , lebih tepatnya di Dusun Beji Wetan, Kelurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jadi kalau mau kesana ke arah Bantul melewati jalan Bantul. Sesampainya diperempatan klodran atau masjid Agung Bantul belok Kanan ikuti jalan utama hingga perempatan jetak soropaten belok kanan ikuti jalan utama sekitar 3,5 km anda akan menemukan sendang tersebut setelah melewati makam sewu atau juga bisa di capai dari Lembaga Pemasyarakatan Pajangan Bantul kearah barat hingga pertigaan dusun beji wetan belok kiri.

Telaga Beji atau Sendang Beji dalam sejarahnya pertama kali ditemukan oleh seorang janda yang bernama Nyai Sariti. Penemuan ini tentu sangat membantu Nyai Sariti yang selalu kekurangan pasokan air ketika musim kemarau tiba. Pada mulanya, air yang keluar dari telaga ini masih bercampur dengan lumur kental ( tidak encer ) dengan luas sekitar 10 meter persegi sehingga tidak bisa digunakan langsung oleh warga setempat. Itulah kemudian telaga ini juga dinamakan sebagai Sendang Ngembel yang berasal dari kata Jawa “Mbel” ( lumpur yang pekat ). Namun lambat laun, air ini menjadi jernih dan bewarna agak kehijau-hijauan akibat adanya lumut di dasar telaga. 

Pada tanggal 15 besar di Bulan Jawa tahun 1915, Kyai Jalu Mampang kemudian menemukan tempat ini. Kondisi pada saat itu, keadaan Sendang Beji atau Sendang Ngembel tidak seramai saat ini. Saat itu hanya ada sebuah rumah yang tak lain dihuni oleh Nyai Sariti sendiri. Namun dalam perkembangannya telaga ini kemudian digunakan sebagai pertanda batas wilayah Kadipaten Mangir dan Keraton Mataram. Ini dapat kita ketahui dari adanya peninggalan sejarah seperti batu bata merah peninggalan Kadipaten Mangir yang berada di sebelah selatan Sendang, tepatnya di daerah Kayen. Selain itu, di tengah-tengah Sendang juga terdapat bukti sejarah berupa Batu Tugu yang didirikan oleh Abdi Kadipaten Mangir Wonoboyo.

Di sebelah utara Batu Tugu terdapat dua buah batu bewarna hitam yang dulunya digunakan sebagai sesajen oleh juru kunci Sendang Beji yang bernama Simbah Prapto Wiharjo. Bukan hanya ini, di sebelah utara sendang juga terdapat sebuah bangunan kecil ( cungkup ) yang dulunya merupakan makam yang sering diziarahi, tapi kemudian jenazahnya sudah dipindah ke kuburan lain.

Baca juga: Wisata Religi Sendang Kasihan

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Sendang Beji ternyata bukan hanya ditempati oleh manusia saja melainkan juga merupakan tempat tinggal bagi makhluk jin yang bernama Nyai Temburu atau Nyai Beji. Oleh karena sama-sama sebagai makhluk Tuhan, maka manusia dan jin yang menempati daerah ini dirasa harus saling menghormati dan menghargai. 

Untuk itu di bangunan kecil tersebut kemudian dialih fungsikan oleh juru kunci sebagai tempat melakukan komunikasi. Beberapa larangan di tempat ini antara lain dilarang berbicara kotor atau tidak sopan, dilarang membuang sampah sembarangan, dilarang kencing sembarangan dan wanita sedang haid dilarang mengunjungi telaga ini. 

Yang menjadi sendang ini kelihatan eksotis adalah adanya bangunan ditengah sendang dengan luas sekitar 2,5 x 2,5 meter. Bangunan ini lebih mirip sebagai altar penyembahan yakni berupa meja batu kecil dengan dikelilingi 2 pohon cemara, sedangkan penghubung antara pinggir sendang dengan bangunan ditengah sendang tersebut berupa jalan setapak. 

Disebelah sendang ini juga terdapat sebuah cungkup atau bangunan rumah kecil dengan ukuran 2 x 3 meter yang dipercaya sebagai tempat penunggu sendang tersebut yang menurut legenda dan mitos bernama Kyai dan Nyai Beji. Tempat inilah sebagai tempat meletakkan sesaji bagi orang orang yang bertirakat mencari berkah ke sendang ngembel ini.

Adanya Sendang Beji atau Sendang Ngembel ini sangat bermanfaat bagi masyarakat hingga saat ini terutama untuk mensuplai air pada musim kemarau untuk persawahan sekitar. Ini dapat kita lihat yaitu di sebelah selatan sendang dimana terdapat dua buah pintu air yang terdapat saluran irigasi. Ukuran luas sendang pun kian bertambah seiring bertambahnya waktu yaitu menjadi sekitar 3000 m2. 

Pada hari minggu tanggal 22 Februari 2015, Sendang Beji atau Sendang Ngembel diresmikan oleh Pemerintahan Kabupaten Bantul sebagai salah satu destinasi wisata lokal yang bersejarah sehingga perlu dilakukan banyak pembenahan. Beberapa serangkaian acara adat dipertunjukan kepada para pengunjung diantaranya pertunjukan Jathilan Kudo Mataram, Wahyu Turonggo Mudo, Turangga Muda Santosa dan Kudo Birowo, pertunjukkan Seni Pekbung, tari, Karawitan Hamamika, Reog Gagak Rimang dan wayang kulit. 

Nah, sebagai wujud syukur atas nikmat Tuhan ini, maka setiap tanggal 15 bulan Besar akan diadakan acara syukuran yaitu pembuatan kenduri dengan sajian utama berupa tumpeng sega megana. Acara kendurian merupakan acara pembuatan aneka makanan oleh masyarakat yang kemudian diadakan acara dzikir berjamaah dan doa bersama kemudian makanan dibagi-bagikan kepada warga lainnya sebagai sodaqoh. 


Sumber:
SiswaPedia

Artikel Terkait